JAKARTA - Hubungan romantis yang sehat tidak hanya dibangun dari kedekatan emosional, tetapi juga membutuhkan ruang agar setiap individu tetap berkembang.
Namun, rasa sayang yang terlalu besar terkadang dapat berubah menjadi ketergantungan berlebihan hingga seseorang kehilangan kemandirian.
Psikolog menyebut kondisi tersebut sebagai hubungan codependent, yaitu keadaan ketika seseorang terlalu bergantung pada pasangan untuk memperoleh rasa aman, pengakuan, dan kebahagiaan.
Sekilas hubungan seperti ini dapat terlihat harmonis, tetapi jika berlangsung lama justru dapat menghambat pertumbuhan pribadi.
Berikut beberapa tanda hubungan codependent yang perlu diperhatikan.
1. Sulit Menikmati Waktu Tanpa Pasangan
Merasa rindu kepada pasangan merupakan hal yang wajar. Namun, jika seseorang merasa gelisah atau tidak mampu menikmati aktivitas saat berjauhan, hal itu bisa menjadi tanda ketergantungan.
Psikolog klinis Maggie Dancel menjelaskan bahwa hubungan romantis hanyalah salah satu bagian dari kehidupan seseorang.
"Dalam hubungan yang sehat, setiap orang memahami pentingnya memelihara kehidupannya sendiri, seperti menghabiskan waktu dengan teman atau menjalani hobi yang disukai," kata Dancel, seperti dilansir SELF Magazine, Kamis (25/6/2026).
Ketika pasangan menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan, seseorang berisiko kehilangan identitas dan kehidupan pribadinya.
2. Merasa Wajib Membuat Pasangan Bahagia
Tanda lain dari hubungan yang terlalu bergantung adalah munculnya perasaan bahwa kebahagiaan pasangan sepenuhnya menjadi tanggung jawab diri sendiri.
Saat pasangan mengalami masalah, seseorang mungkin merasa harus segera memperbaiki keadaan meskipun harus mengabaikan kebutuhan pribadi.
Psikolog Sabrina Romanoff menjelaskan bahwa ketergantungan emosional dapat membuat suasana hati pasangan memengaruhi kondisi perasaan seseorang.
"Ketika pasangan bahagia, kamu merasa aman. Namun ketika mereka tidak bahagia, dunia kamu bisa terasa ikut berantakan," ujarnya.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan saling memberi dukungan tanpa harus mengambil alih tanggung jawab atas emosi masing-masing.
3. Rasa Percaya Diri Bergantung pada Pasangan
Seseorang dapat mengalami ketergantungan emosional ketika penilaian terhadap diri sendiri selalu bergantung pada perhatian pasangan.
Misalnya, merasa tidak dicintai hanya karena pesan tidak segera dibalas atau merasa pencapaian pribadi kurang berarti tanpa pujian pasangan.
Menurut Romanoff, kondisi tersebut membuat seseorang terus mencari tanda bahwa dirinya dihargai.
Padahal, rasa percaya diri yang baik seharusnya tidak sepenuhnya bergantung pada respons atau persetujuan orang lain.
4. Takut Membuat Batasan dalam Hubungan
Kompromi merupakan bagian penting dalam hubungan. Namun, terlalu sering mengalah karena takut mengecewakan pasangan dapat menjadi tanda hubungan tidak seimbang.
Contohnya, mengikuti aktivitas yang tidak disukai hanya untuk menyenangkan pasangan atau memilih diam ketika merasa tidak nyaman.
Romanoff mengingatkan bahwa terus mengabaikan batasan pribadi dapat membuat seseorang merasa lelah, tidak dihargai, dan perlahan kehilangan jati diri.
5. Selalu Meminta Persetujuan untuk Hal Kecil
Meminta pendapat pasangan dalam beberapa hal merupakan sesuatu yang normal. Tetapi jika setiap keputusan kecil harus mendapat persetujuan pasangan, hal itu dapat menunjukkan ketergantungan.
Mulai dari memilih pakaian, menentukan kegiatan, hingga mengambil keputusan sehari-hari bisa terasa sulit tanpa adanya persetujuan pasangan.
Dancel menyebut kondisi ini dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan dirinya sendiri.
Ketika hubungan berubah menjadi tempat meminta izin untuk menjalani hidup, bukan lagi sekadar berbagi kehidupan, ketergantungan emosional mungkin sudah terlalu jauh berkembang.
Hubungan yang sehat bukan berarti harus selalu bersama setiap waktu, melainkan mampu tetap menjadi diri sendiri sambil membangun kedekatan.
Menjaga keseimbangan antara kasih sayang dan kemandirian menjadi hal penting agar hubungan dapat berjalan dalam jangka panjang.