JAKARTA - Indonesia dan Kuwait memperkuat kerja sama di bidang ketahanan energi sebagai upaya menghadapi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global yang masih berlangsung.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Duta Besar Kuwait untuk Indonesia, Khalid Jassim Alyassin, di Jakarta, Jumat.
“Indonesia dan Kuwait memiliki hubungan diplomatik dengan fondasi yang kuat. Hal ini penting dalam memperluas kerja sama bilateral. Kedua negara sepakat untuk terus bekerja sama dalam ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik,” kata Airlangga dalam keterangannya.
Kerja sama energi kedua negara telah berlangsung melalui sejumlah proyek strategis, salah satunya keterlibatan Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (KUFPEC) dalam delapan kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia, termasuk di wilayah Pulau Buton, Laut Natuna, Kalimantan Timur, dan Anambas.
Kolaborasi ini diperkuat melalui Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Migas dan Petrokimia yang disepakati pada 2019.
Selain kerja sama energi, kedua negara juga telah memiliki sejumlah MoU lain, termasuk di bidang ekonomi, teknik, dan perdagangan sejak 2007.
“Berbagai Nota Kesepahaman yang dimiliki kedua negara menunjukkan signifikansi peran Indonesia bagi Kuwait, khususnya di bidang ekonomi," ujar Duta Besar Khalid.
Kedua pihak juga sepakat untuk mendorong percepatan penyelesaian perundingan Indonesia-GCC (Free Trade Agreement), yang ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Tren hubungan ekonomi kedua negara pun menunjukkan perkembangan positif dengan total perdagangan pada 2025 meningkat sebesar 10,69 persen menjadi 606 juta dolar AS, serta investasi Kuwait di Indonesia yang melonjak menjadi 1,2 juta dolar AS pada periode yang sama.