Tren Konsumen Cari Hiburan Murah di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Tren Konsumen Cari Hiburan Murah di Tengah Tekanan Ekonomi Global
Ilustrasi Lipstik.

JAKARTA - Saat kondisi stabilitas ekonomi sedang memburuk, pola pikir masyarakat pada umumnya akan cenderung menahan diri untuk berbelanja.

Namun demikian, terdapat sebuah fenomena unik yang justru memperlihatkan kondisi sebaliknya di dalam kehidupan pasar finansial.

Sebagian kelompok konsumen terpantau tetap membeli barang yang dikategorikan mewah walaupun dalam skala kecil serta harga yang relatif terjangkau.

Fenomena perilaku ekonomi yang tidak biasa ini di dalam dunia instrumen bisnis lebih dikenal dengan istilah lipstick effect atau efek lipstik.

Kecenderungan lipstick effect mengarah pada minat masyarakat membeli barang premium murah seperti kosmetik, parfum, kopi premium, atau tiket hiburan saat daya beli lesu.

Teori ini sejatinya telah lama dijadikan sebagai salah satu parameter alternatif guna membaca arah pergerakan perilaku konsumsi ketika pasar melambat.

Berdasarkan data Investopedia, kondisi ini menggambarkan momen saat publik memangkas pengeluaran barang mewah bernilai besar namun tetap mencari kepuasan emosional skala kecil.

Istilah ini dipopulerkan mantan Chairman Estee Lauder, Leonard Lauder, yang mengamati lonjakan omzet lipstik pascaserangan terorisme 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Lauder mengemukakan bahwa komoditas lipstik dapat menjadi sebuah indikator unik yang pergerakannya justru berlawanan arah dengan grafik pertumbuhan ekonomi dunia.

Akan tetapi, fondasi gagasan mengenai teori efek lipstik ini sebenarnya sudah sempat dituangkan oleh Juliet Schor lewat buku The Overspent American pada 1998.

Dalam perkembangannya, cakupan efek lipstik tidak melulu soal kosmetik, melainkan merambah ke produk cokelat, kopi bermerek, hingga tiket menonton bioskop.

Ketika pendapatan menyusut, masyarakat cenderung memangkas anggaran untuk berlibur jauh, membeli tas bermerek, ataupun pakaian desainer yang mahal.

Meski demikian, sebagian individu tetap memiliki ambisi untuk merasakan kebahagiaan instan atau sekadar mempertahankan status sosial di tengah tekanan finansial.

Maka dari itu, mereka melampiaskan hasrat belanja dengan mengganti objek kemewahan besar ke dalam bentuk opsi kemewahan lain yang jauh lebih murah.

Masyarakat tidak sepenuhnya menghapus esensi kebutuhan untuk menikmati hidup, melainkan hanya menyelaraskan bentuk konsumsinya agar aman bagi dompet pribadi.

Kondisi psikologis ini menerangkan alasan mengapa sektor restoran cepat saji premium serta industri sinema tetap mampu bertahan hidup saat resesi melanda.

Sebuah artikel dari Michigan Journal of Economics memaparkan bahwa teori ini erat kaitannya dengan psikologi manusia serta kebutuhan eksistensi pengakuan sosial.

Konsumsi produk lipstik premium dinilai bisa menjadi substitusi dari pengeluaran mencolok yang membutuhkan biaya jauh lebih besar.

Lewat pembelian barang mewah versi murah, konsumen dirasa tetap mampu memenuhi kepuasan batin agar tetap dianggap setara di lingkungan pergaulannya.

Lipstik beralih fungsi dari sekadar kosmetik pemoles wajah menjadi sebuah simbol bahwa seseorang masih sanggup mencicipi kemewahan hidup.

Investopedia juga memaparkan alasan lain yang memicu gejala ini, yakni akibat meningkatnya tensi persaingan di pasar tenaga kerja saat resesi.

Sempitnya lapangan pekerjaan menuntut para pencari kerja untuk tampil prima demi menaikkan daya saing visual mereka di mata perusahaan.

Penggunaan kosmetik yang lebih baik dipandang sebagai investasi strategis untuk memperbesar peluang meraih posisi kerja atau mempertahankan jabatan.

Gejala fenomena efek lipstik ini dilaporkan sudah mulai terendus oleh sejumlah pengamat dan ekonom senior di internal wilayah Indonesia.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics atau CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menyebut tanda ini terlihat dari pergerakan indeks ritel.

"Kalau melihat beberapa indikator seperti indeks penjualan ritel itu ada beberapa items ritel yang mengalami peningkatan seperti perawatan pribadi," ujar Faisal kepada Kompas.com, Rabu (20/5/2026).

Faisal memandang lompatan data pada sektor ritel perawatan diri ini menjadi satu anomali yang cukup menarik perhatian di tengah isu krisis.

"Itu salah satu gejala yang menurut saya cukup menarik ya, di tengah tekanan daya beli, ya dan juga kekhawatiran terhadap krisis," ucap dia.

Kendati demikian, Faisal memberikan catatan bahwa agregat data yang dikantongi saat ini belum memetakan persebaran kelas ekonomi konsumen.

"Secara agregat ya, kami tidak tahu juga dari sisi distribusinya bagaimana, apakah masyarakat menengah, kaya, ataupun miskin. Tapi secara agregat memang ada peningkatan pembelian barang-barang yang sifatnya perawatan pribadi ya," kata dia.

Faisal meminta publik tidak tergesa-gesa menyimpulkan bahwa fenomena ritel ini merupakan sinyal sahih Indonesia sedang menuju gerbang depresi ekonomi.

"Saya rasa itu agak terlalu untuk saat sekarang ya, untuk kacamata sekarang terlalu jump to conclusion. Jadi terlalu cepat untuk menyimpulkan dan saya pikir belum sampai ke sana ya, untuk kacamata pada saat sekarang," jelas dia.

Menurut analisisnya, pola kebiasaan masyarakat dalam merawat kebersihan dan kesehatan diri memang sudah terakselerasi sejak era pandemi Covid-19.

"Karena fenomenanya itu terjadi bukan hanya pada saat sekarang, tapi juga sudah terjadi sejak pandemi. Jadi artinya sudah 6 tahun ya, sudah terjadi selama 6 tahun terakhir," papar dia.

Pandangan senada datang dari Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy, yang menilai hal ini sebagai alarm kecil.

"Jadi, lipstick effect adalah alarm kecil," ujarnya.

Budi berpendapat indikator ini baru wajib diwaspadai jika diikuti rontoknya tabungan warga serta meroketnya angka kredit macet pada sektor paylater.

Gejala ini mengonfirmasi adanya penundaan transaksi barang tahan lama seperti rumah atau mobil, yang dialihkan ke pemenuhan self-reward media sosial.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia, Teguh Yudo Wicaksono, melihat fenomena ini menekan kaum kelas menengah.

"Kami ketahui bahwa selama ini banyak kebijakan ekonomi yang membuat kelas menengah stagnan," ujarnya.

Pelemahan kurs mata uang asing dan goyahnya investasi membuat kelompok masyarakat menengah terpaksa mengalihkan jenis pengeluaran konsumsi mereka.

"Jadi semua memang indikasi kelas menengah dalam tekanan," kata dia.

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menambahkan adanya gejala downtrading di mana konsumen bermigrasi ke produk kemasan kecil demi hemat.

"Apalagi sekarang mulai terlihat gejala downtrading, konsumen beralih ke produk yang lebih murah, kemasan kecil, atau memanfaatkan paylater untuk menjaga gaya hidup," jelas dia.

Yusuf mengingatkan para pemangku kebijakan agar tidak salah membaca data kenaikan ritel kecil ini sebagai simbol pulihnya daya beli domestik.

"Efek lipstik sebaiknya dibaca sebagai sinyal kehati-hatian, bukan tanda konsumsinya sedang kuat," tegas Yusuf.

Jika durasi tekanan pasar berjalan lama tanpa adanya kenaikan upah, maka ketahanan ekonomi riil masyarakat dipastikan akan ikut terkuras habis.

"Kalau tekanan ekonomi berlangsung terlalu lama sementara pendapatan tidak naik, risiko berikutnya adalah tabungan rumah tangga terkuras, konsumsi utang meningkat, dan daya tahan masyarakat semakin melemah," ungkap dia.

Meski demikian, teori efek lipstik ini tetap menuai kritik lantaran validitas datanya dinilai tidak konsisten pada beberapa kasus resesi global.

Seiring bergesernya zaman, tren ini berevolusi melahirkan istilah baru seperti nail polish index hingga munculnya istilah mascara index saat pandemi.

Ekonom California State University, Yasemin Dildar, menyimpulkan fenomena belanja kosmetik saat resesi murni dipicu oleh faktor pemenuhan emosional.

"Itu hanyalah bentuk hiburan kecil," kata Dildar seperti dikutip Bloomberg.

Pada akhirnya, teori lipstick effect mencerminkan bagaimana dinamika psikologis manusia yang selalu berupaya mencari kebahagiaan di tengah masa sulit.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index