Nilai Minyak Dunia Turun Buka Peluang Harga BBM Juli 2026 Turun

Selasa, 30 Juni 2026 | 21:18:01 WIB
Ilustrasi Petugas SPBU Sedang Mengisi BBM.

JAKARTA - Nominal harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi memiliki peluang untuk mengalami penurunan nilai atau justru dipertahankan pada posisi tetap per tanggal 1 Juli 2026.

Prediksi tersebut mengemuka seiring dengan pergerakan harga minyak mentah di pasar global yang mulai menunjukkan tren melandai, kendati posisi kurs rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dua indikator utama di atas sejatinya menjadi acuan fundamental bagi korporasi dalam menetapkan arah perubahan harga eceran BBM nonsubsidi di sektor domestik.

Berdasarkan data berkala Refinitiv, rata-rata nilai minyak Brent sepanjang Juni 2026 berada pada angka 84,4 dolar AS per barel, atau mencatatkan koreksi turun sebesar 18,62 persen dibanding rerata Mei lalu.

Sementara itu, harga minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) bertengger di posisi 81,58 dolar AS per barel sepanjang Juni, yang juga merosot sedalam 17,11 persen daripada rata-rata Mei senilai 98,42 dolar AS per barel.

Fluktuasi pergerakan nilai minyak global selama Juni ini banyak dipengaruhi oleh meredanya tensi konflik geopolitik yang melibatkan pihak Amerika Serikat dengan Iran.

Tekanan terhadap pergerakan komoditas energi tersebut berangsur pulih setelah AS dan Iran menyepakati perjanjian damai guna menghentikan perang di Timur Tengah pada Minggu (14/6/2026).

Kesepakatan bilateral itu menjadi titik balik krusial bagi pasar energi karena konflik kedua negara tersebut sempat memicu kekhawatiran atas stabilitas pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi distribusi minyak bumi dunia tempat bertolak bagi kapal tanker pengangkut pasokan energi dari kawasan Teluk sebelum menuju ke berbagai negara tujuan.

Melalui kesepakatan damai di Swiss tersebut, pihak Iran memaparkan bahwa penyusunan draf nota kesepahaman bersama pihak otoritas Amerika Serikat telah resmi ditandatangani.

Terdapat dua klausul utama yang disoroti oleh pelaku pasar, yakni penghentian perang secara permanen di seluruh lini serta pembukaan blokade wilayah laut yang sebelumnya diterapkan AS.

Presiden AS Donald Trump turut menyampaikan bahwa rekonsiliasi dengan Iran sudah tuntas dan menginstruksikan pencabutan blokade laut oleh armada militer Angkatan Laskar Laut AS.

Kabar mengenai pembukaan akses Selat Hormuz ini membawa ketenangan di pasar dunia sehingga premi risiko perang yang sempat mendongkrak harga minyak mulai dilepas oleh pelaku pasar.

Di sisi lain, pergerakan nilai mata uang rupiah dilaporkan masih dibayangi tekanan sepanjang Juni, walaupun tingkat depresiasinya relatif lebih minim dibandingkan periode sebelumnya.

Tingkat pelemahan rupiah tercatat hanya sebesar 0,17 persen sejak awal Juni hingga sesi penutupan perdagangan harian pada Selasa (30/6/2026) di level Rp17.893 per dolar AS.

Dalam regulasi domestik, pemerintah merumuskan tarif BBM mengacu pada formula rata-rata harga publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS) dengan menghitung pergerakan dua bulan ke belakang.

Melihat kondisi penurunan rata-rata minyak Brent sebesar 8,98 persen serta WTI sebesar 8,58 persen pada Mei-Juni, terdapat kelonggaran bagi pos pembiayaan impor komoditas minyak dalam negeri.

Situasi melandainya harga komoditas global yang dibarengi dengan depresiasi rupiah yang cukup minimal ini memicu prediksi turunnya tarif BBM nonsubsidi per tanggal 1 Juli 2026.

Walakin, opsi bagi korporasi dan pemerintah untuk mempertahankan harga jual Pertamax RON 92 juga tetap terbuka karena nilai keekonomiannya sempat ditahan saat harga minyak dunia melambung.

Pemberlakuan harga baru Pertamax pada 10 Juni 2026 lalu menjadi Rp16.250 per liter dinilai masih berada di bawah angka pasaran yang idealnya berkisar Rp19.000 hingga Rp20.000 per liter.

Sebagai catatan, pada awal Juni 2026 Pertamina sempat mengoreksi harga Pertamax Turbo menjadi Rp20.750 per liter, sedangkan Dexlite turun ke Rp23.000 dan Pertamina Dex turun ke Rp24.800 per liter.

Baru pada tanggal 10 Juni 2026, Pertamina merevisi tarif Pertamax RON 92 menjadi Rp16.250 per liter serta Pertamax Green 95 disesuaikan pada angka Rp17.000 per liter.

Adapun untuk kategori BBM bersubsidi hingga saat ini dilaporkan tidak mengalami perubahan harga, di mana Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Solar subsidi bertahan Rp6.800 per liter.

Terkini