Rencana Penurunan Harga BBM Non Subsidi Dinilai Bantu Ekonomi Warga

Sabtu, 27 Juni 2026 | 15:38:01 WIB
Ilustrasi Petugas SPBU Sedang Mengisi BBM.

JAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal memandang agenda pemangkasan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mampu menyokong stabilitas ekonomi masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah.

"Jadi semestinya kalau harga minyak mentah dunia sekarang sekitar 70-an dolar AS per barel, bahkan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) itu sudah 68 dolar per barel, mestinya (harga BBM non-subsidi) turun, dan ini juga akan membantu permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat konsumen di Indonesia terutama kaitannya dengan penurunan kelas menengah misalnya," ujar Faisal saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Dia menerangkan pada prinsipnya nominal harga jual untuk jenis BBM non-subsidi mengikuti skema mengambang atau floating, yang artinya berpatokan langsung pada pergerakan harga minyak mentah dunia.

Kondisi tersebut kontras dengan jenis BBM bersubsidi yang disuntik dana bantuan oleh negara, sehingga regulasi harganya saat angka minyak mentah global berfluktuasi sepenuhnya bertumpu pada ketetapan pemerintah.

"Menurut saya jangan berlama-lama, jadi semestinya juga dalam waktu dekat (harga BBM non-subsidi) itu sudah bisa diturunkan semestinya, karena pada dasarnya dia floating, jadi harus diturunkan, apalagi kalau kemudian nanti stabil artinya stabil terus di kisaran 70 dolar AS per barel maka sudah waktunya untuk diturunkan," kata Faisal.

Sebagai informasi, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menyodorkan usulan strategis kepada jajaran direksi untuk segera merancang realisasi penurunan harga BBM non-subsidi secara berkala terhitung sejak awal Juli 2026.

Langkah ini diambil menyusul grafik harga minyak mentah (crude) internasional yang terpantau merosot dalam kurun waktu belakangan ini.

Adapun nilai transaksi minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) pada sesi perdagangan pagi ini bertengger di angka 71,533 dolar AS per barel. Sementara itu, nominal acuan untuk perdagangan minyak mentah jenis Brent hari ini berada pada level 74,835 dolar AS per barel.

Oleh sebab itu, Iriawan mengutarakan bahwa pihaknya segera mengadakan pembahasan lebih mendalam bersama dewan direksi Pertamina sekaligus Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) perihal celah penyesuaian tarif BBM non-subsidi.

Berdasarkan data pelengkap, harga BBM eceran non-subsidi di SPBU per 10 Juni 2026 mencatatkan kenaikan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Di sisi lain, banderol Pertamax Green 95 (RON 95) merangkak naik dari Rp12.900 per liter menuju Rp17.000 per liter.

Sementara itu, harga untuk jenis Pertamax Turbo (RON 98) bergeming di angka Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) tetap Rp23.000 per liter, serta Pertamina Dex (CN 53) tidak berubah pada Rp24.800 per liter.

Namun, dirinya memberikan catatan tebal bahwa peninjauan ulang harga komoditas BBM wajib melewati rantai birokrasi dan tidak dapat diwujudkan secara instan.

Menurut pandangannya, regulasi kalkulasi periodik yang dijalankan oleh korporasi merupakan instrumen penting untuk memproteksi konsumen agar tidak terimbas oleh lonjakan harga harian yang drastis.

Terkini