Pemerintah Siapkan Dana Perbaikan Irigasi hingga Tahun 2029

Rabu, 24 Juni 2026 | 19:21:31 WIB
Ilustrasi Jaringan Irigasi Di Sawah.

JAKARTA - Pengalokasian dana sebesar Rp14 triliun pada 2026 disiapkan oleh pemerintah untuk merevitalisasi jaringan irigasi guna memacu indeks pertanaman, produktivitas, serta mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan.

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menyebut bahwa pemerintah telah menggelontorkan anggaran sekitar Rp12 triliun pada 2025 dan meningkat menjadi Rp14 triliun pada 2026 sebagai bagian dari program revitalisasi jaringan irigasi yang berlanjut hingga 2029.

"(Tahun) 2026 ini (anggaran yang dialokasikan) Rp14 triliun, dan akan diteruskan sampai dengan 2029. Diharapkan di ujung tahun sampai dengan 2029 itu, semua irigasi yang memang diperlukan untuk diperbaiki, itu kami perbaiki semua," kata Sudaryono.

Langkah percepatan perbaikan infrastruktur air ini diambil demi merespons keluhan dari para petani yang masih terkendala pasokan air akibat ribuan hektare lahan pertanian dengan jaringan irigasi yang belum optimal.

Pihaknya berharap seluruh jaringan irigasi yang memerlukan pembenahan dapat diselesaikan bertahap, sehingga pada akhir 2029 seluruh sarana pendukung pertanian tersebut mampu berfungsi secara maksimal.

Menurut pandangannya, optimalisasi saluran irigasi akan mendongkrak indeks pertanaman agar para petani dapat bercocok tanam lebih dari satu kali dalam setahun dan mampu menaikkan taraf kesejahteraan mereka.

"Kami harapkan dengan adanya irigasi orang bisa nanam, di musim kemarau bisa nanam. Yang tadinya nanam sekali bisa dua kali, yang dua kali jadi tiga kali," katanya.

"Dan, itu selain negara kami dapat produktivitas petani, tapi petaninya juga tambah sejahtera, karena yang tadinya panen sekali bisa panen lebih dari sekali," tambah Sudaryono.

Ia memastikan jajaran pemerintah terus memperkokoh pilar swasembada pangan nasional lewat pembenahan irigasi, penyaluran benih bermutu, serta modernisasi alat mesin pertanian di lapangan.

Komitmen ini diutarakannya sewaktu berdialog langsung untuk menyerap aspirasi dalam agenda Kopdar Tani dan Nelayan di sela kegiatan Pekan Nasional atau Penas Petani Nelayan XVII di Gorontalo.

Dalam forum tatap muka itu, Wamentan Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar mengutarakan bahwa keberhasilan Indonesia menghentikan impor sejumlah komoditas pangan strategis seperti beras, jagung, dan gula patut disyukuri.

Kendati demikian, pihak pemerintah tidak ingin cepat berpuas diri pada capaian tersebut dan berjanji akan terus melakukan pembenahan berkelanjutan agar fondasi pangan semakin kokoh.

"Nggak impor pangan lagi, nggak impor beras lagi, nggak impor jagung lagi, nggak impor gula lagi. Itu kami syukuri, sembari kami juga secara perlahan kami perbaiki apa yang memang harus kami perbaiki," kata dia.

Pemerintah juga berkomitmen memastikan kelancaran pasokan benih berkualitas tinggi, memperkuat sarana produksi, serta membenahi irigasi agar pembangunan sektor pertanian merata di seluruh tanah air.

"Misalnya, kami bagaimana membangun pertanian yang baik, sebaik pertanian yang di tempat lain, di Papua. Membangun pertanian di Papua sebagus pertanian di provinsi lain. Irigasi kami perbaiki, kepastian benih yang baik dan berkualitas kami pastikan dan seterusnya," bebernya.

Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto memegang komitmen penuh untuk mentransformasikan swasembada pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan bagian dari kedaulatan bangsa.

"Presiden Prabowo telah komit untuk membangun swasembada ini bukan hanya bagian dari ekonomi, tapi menjadi bagian dari ketahanan dan kedaulatan bangsa kami," kata Sudaryono.

Terkini