Cara Berbicara Memengaruhi Keberuntungan Menurut Astrologi Tiongkok

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:20:01 WIB
Ilustrasi orang sedang beruntung.

JAKARTA - Menurut astrologi Tiongkok, keberuntungan tidak hanya dipengaruhi oleh nasib atau waktu yang tepat, tetapi juga oleh cara seseorang berbicara dan memandang kehidupan.

Astrolog yang dikenal dengan nama ancientwifi menjelaskan, kata-kata yang diucapkan seseorang memiliki energi yang dapat memengaruhi kondisi hidupnya. Oleh karena itu, pola pikir dan kebiasaan berbicara diyakini berperan dalam menarik atau justru menjauhkan keberuntungan.

Berikut beberapa alasan mengapa cara berbicara disebut berkaitan dengan keberuntungan menurut astrologi Tiongkok.

Kata-kata positif dianggap membawa energi pertumbuhan Menurut ancientwifi, dalam astrologi Tiongkok setiap kata yang diucapkan mengandung energi tertentu yang berkaitan dengan lima elemen kehidupan. Orang yang terbiasa berbicara positif diyakini memancarkan energi kayu atau wood energy.

"Kata-kata yang kamu ucapkan dan pikiran yang kamu miliki sebenarnya membawa lima elemen energi dan feng shui kamu sendiri," ujarnya, seperti dikutip Your Tango, Senin (22/6/2026).

Energi kayu dalam astrologi Tiongkok melambangkan pertumbuhan, perkembangan, dan keberuntungan. Karena itu, orang yang lebih sering berfokus pada peluang, harapan, dan solusi dipercaya lebih mudah menarik hal-hal baik ke dalam hidupnya.

Kebiasaan melihat sisi positif dari sebuah situasi juga membantu seseorang tetap optimistis ketika menghadapi tantangan. Sikap inilah yang sering kali membuka jalan bagi peluang baru yang sebelumnya tidak terlihat.

Tak banyak mengeluh karena menguras energi diri Sebaliknya, astrologi Tiongkok mengaitkan kebiasaan mengeluh dengan energi logam atau metal energy. Energi ini identik dengan pemotongan, penghentian, dan penghancuran. Ancientwifi mengatakan, kebiasaan berbicara negatif secara terus-menerus dapat menguras energi mental seseorang.

"Ini benar-benar menguras baterai kamu," katanya.

Orang yang sering mengeluhkan pekerjaan, kondisi hidup, atau berbagai kesulitan cenderung terjebak dalam pola pikir yang sama dari waktu ke waktu. Akibatnya, mereka lebih sulit melihat peluang dan solusi yang sebenarnya tersedia.

Meski mengungkapkan perasaan sesekali merupakan hal yang wajar, terus-menerus berfokus pada hal negatif dapat membuat seseorang merasa semakin terbebani dan kehilangan motivasi untuk berkembang.

Pola pikir positif membantu membentuk kebiasaan baru Pandangan ini juga didukung oleh ahli bedah saraf ternama, James Doty. Ia menjelaskan, perhatian dan cara berpikir seseorang dapat memengaruhi cara kerja otak.

"Perhatian kami dapat diarahkan kembali dengan cara yang benar-benar mengubah otak. Dengan latihan yang tepat, kami dapat memperkuat jaringan saraf yang membantu kami belajar, berkembang, dan mewujudkan potensi diri," ungkap Doty.

Meski demikian, mengubah kebiasaan berpikir bukanlah hal yang instan. Sebuah studi tahun 2024 menemukan bahwa pembentukan kebiasaan baru dapat memerlukan waktu antara 59 hingga 154 hari.

Maka dari itu, seseorang perlu melatih pola pikir positif secara konsisten, misalnya melalui jurnal harian, afirmasi positif, terapi, atau mengurangi pengaruh lingkungan yang toksik. Psikolog Jennice Vilhauer menegaskan, setiap orang memiliki kendali atas cara berpikir dan bertindak.

"Tidak ada seorang pun yang bisa memilih pikiran atau tindakan kamu, semuanya adalah milik kamu sendiri," ujarnya.

Menurutnya, cara seseorang menafsirkan peristiwa dalam hidup akan memengaruhi perasaan dan respons yang muncul. Oleh karenanya, mengubah cara pandang terhadap masalah dapat menjadi langkah awal untuk membangun kehidupan yang lebih bahagia dan penuh peluang.

Meski tidak ada bukti ilmiah bahwa keberuntungan ditentukan oleh astrologi, para ahli sepakat bahwa pola pikir positif dapat membantu seseorang lebih tangguh, optimistis, dan terbuka terhadap kesempatan baru.

Terkini