Rupiah Melemah ke Rp17.843 Per Dolar AS Imbas Konflik Dunia dan Inflasi

Selasa, 23 Juni 2026 | 21:35:32 WIB
Ilustrasi Rupiah.

JAKARTA - Kurs mata uang rupiah diproyeksikan bakal bergulir secara fluktuatif serta berakhir melemah pada kisaran rentang area Rp17.840 sampai Rp17.890 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Menilik data pasar dari TradingView, posisi nilai tukar rupiah resmi ditutup menyusut sebesar 0,22 persen atau terkoreksi 39 poin menuju level Rp17.843 per dolar AS dalam sesi transaksi perdagangan hari Senin (22/6/2026).

Pada momentum yang bersamaan, grafik pergerakan indeks dolar AS (DXY) justru terpantau mengalami penguatan sebesar 0,14 persen sehingga naik bertengger menuju posisi level 100,98.

Analis pasar komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjabarkan bahwa rentetan sentimen yang membayangi posisi rupiah di lantai bursa finansial bersumber dari dinamika ketegangan militer Timur Tengah antara AS dengan Iran.

Kondisi psikologis pasar sempat terguncang seusai Pemimpin AS Donald Trump melemparkan peringatan serius kepada Iran menyangkut risiko operasi militer susulan, terkecuali jika pihak Teheran bersedia meredam pergerakan kelompok Hizbullah di Lebanon.

"Namun, pembicaraan AS-Iran berakhir di Swiss, dengan Teheran mengatakan telah mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, meredakan kekhawatiran tentang kekurangan pasokan di pasar global dan menekan harga minyak mentah," kata Ibrahim, Senin (22/6/2026).

Adapun jajaran petinggi dari kubu AS maupun Iran dilaporkan telah merampungkan agenda diskusi putaran perdana mereka di Swiss dengan menelurkan nota kesepahaman memperpanjang durasi gencatan senjata April sepanjang 60 hari ke depan.

Di luar masalah friksi bersenjata tersebut, dorongan sentimen makro global ikut dipicu oleh raport perkembangan internal ekonomi Amerika Serikat yang mencuri atensi pelaku pasar keuangan.

Ibrahim menguraikan bahwa fokus perhatian investor saat ini sedang tersedot oleh rilis data ekonomi AS kuartal pertama 2026 beserta laporan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE).

Kalangan pelaku pasar juga tengah menanti arah kebijakan moneter strategis yang bakal diproduksi oleh Bank Sentral AS di bawah komando nakhoda kepemimpinan anyar mereka.

Sementara dari koridor domestik, pergerakan rupiah ke depan dipastikan bakal banyak dipengaruhi oleh rilis berkala sejumlah indikator kinerja ekonomi nasional, salah satunya yaitu pergerakan indeks inflasi.

Pihak Bank Indonesia (BI) memproyeksikan langkah kebijakan penyesuaian nilai jual bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, terkhusus lonjakan harga pada varian Pertamax dan Pertamax Turbo, akan menyumbang andil pada naiknya inflasi.

Di sisi lain, hambatan fundamental muncul dari transmisi gejolak nilai minyak serta komoditas makro internasional ke dalam negeri, atau yang biasa diistilahkan dalam dunia ekonomi sebagai imported inflation.

Faktor eksternal tersebut secara otomatis membawa dampak berantai bagi rumpun harga barang yang dikendalikan oleh pemerintah (administered prices), seperti pada kebijakan harga baru BBM nonsubsidi belum lama ini.

Aspek risiko sekunder yang sedang dicermati intensif ialah potensi anomali perubahan cuaca, di mana gejala El Nino diprediksi bakal melanda wilayah Indonesia pada rentang periode akhir Juni hingga Oktober atau November nanti.

Hantaman iklim ekstrem tersebut berpotensi besar memicu tekanan berantai pada stabilitas harga kelompok komoditas pangan bergejolak (volatile food) di pasar-pasar retail domestik.

Melihat akumulasi faktor sentimen yang mengitari laju mata uang garuda tersebut, Ibrahim melemparkan estimasi bahwa pergerakan rupiah pada perdagangan esok hari masih rentan ditutup pada zona pelemahan.

Menjelang sore hari pukul 15.10 WIB, kurs rupiah bertengger di zona penurunan sebesar 0,09 persen atau terpangkas 16 poin ke level Rp17.859 per dolar AS, bersamaan dengan menguatnya indeks dolar AS 0,11 persen ke pos 101,13.

Sebelumnya pada perdagangan siang pukul 11.47 WIB, tekanan terhadap rupiah sempat menyentuh angka 0,26 persen atau tergerus sebanyak 46 poin hingga terlempar menuju level Rp17.860 per dolar AS.

Sementara pada momen pembukaan pagi hari, rupiah melemah tipis 16 poin atau 0,09 persen ke Rp17.859 per dolar AS, di tengah pergerakan valuta asing Asia yang bervariasi seperti depresiasi rupee India 0,37 persen dan penguatan ringgit Malaysia 0,31 persen.

Terkini