Ajang FFD 2026 Menguji Bakat serta Ketangguhan Para Desainer Muda

Minggu, 21 Juni 2026 | 17:50:01 WIB
Ilustrasi desainer.

JAKARTA - Ada kalanya, dibutuhkan panggung yang tepat untuk menampilkan bakat seseorang dalam bentuk terbaiknya. Mendiang ikon fesyen Karl Lagerfeld misalnya, di usia muda merintis namanya di dunia fesyen lewat kompetisi International Wool Secretariat—saat ini dikenal dengan nama Woolmark Prize, pun desainer Yves Saint Laurent.

Penghargaan itu mengantarkan keduanya untuk berkreasi di bawah naungan jenama fesyen legendaris, Pierre Balmain untuk Karl dan House of Dior untuk Yves. Kompetisi menjadi batu loncatan bagi desainer yang tidak memiliki akses terhadap koneksi industri dan mentor terbaik, untuk membuktikan kemampuan mereka di hadapan publik.

Namun, kompetisi yang dipilih juga mengambil andil dalam seberapa jauh batu loncatan ini akan membawa mereka. Hal itulah yang coba dijawab oleh Future Fashion Designer (FFD) 2026, program yang digagas JF3 bersama Susan Budihardjo Fashion Forward Institute.

Kompetisi ini menilai peserta dalam rangkaian uji coba yang menyeluruh. Konsep dan ide sudah pasti masuk ke dalam penilaian, tapi lebih dari itu, kompetisi ini juga menguji ketangguhan, kemampuan memecahkan masalah, dan berpikir kritis dari para peserta.

Para peserta FFD 2026 tidak hanya diminta untuk menciptakan desain yang menarik di atas kertas, mereka juga harus membuktikan bahwa ide tersebut dapat diwujudkan menjadi produk yang layak pakai.

Advisor JF3 sekaligus Founder LAKON Indonesia, Thresia Mareta, mengatakan industri saat ini membutuhkan desainer yang mampu menerjemahkan gagasan menjadi karya nyata dengan kualitas yang baik.

"Ini bukan cuma kompetisi ide atau konsep, tapi ini adalah benar-benar kompetisi kemampuan," seru Thresia dalam Press Conference Future Fashion Designer (FFD) 2026 yang diselenggarakan di Gafoy Workshop, Summarecon Mall Kelapa Gading pada Kamis (18/06).

Menurut Thresia, seorang desainer perlu memahami keseluruhan proses penciptaan busana. Kemampuan menggambar hanyalah satu bagian dari pekerjaan.

Mereka juga perlu memahami konstruksi pola, teknik menjahit, pemilihan bahan, warna, sampai ke bagaimana sebuah produk diwujudkan secara utuh. Pengalaman Thresia mendampingi ratusan brand membuatnya melihat kebutuhan tersebut semakin mendesak.

Seiring berkembangnya industri kreatif, kebutuhan terhadap desainer yang mampu mengeksekusi ide dengan baik juga semakin besar.

“Kelihatannya kami memang butuh desainer yang mampu mengeksekusi ide itu jadi satu kenyataan dengan kualitas yang baik,” jelas Thresia.

Terkini