Harga Batu Bara Global Terpantau Melemah Sepanjang Pekan Ini

Minggu, 21 Juni 2026 | 16:55:31 WIB
Ilustrasi tambang batu bara.

JAKARTA - Harga komoditas batu bara terpantau kembali mengalami penurunan sepanjang pekan ini, dipicu oleh sentimen negatif dari pasar India yang bertindak sebagai konsumen terbesar kedua di dunia.

Pada sesi perdagangan Jumat, 19 Juni 2026 yang lalu, nilai jual batu bara dunia untuk kontrak bulan Juli 2026 ditutup melemah tipis 0,04 persen dan bertengger pada level US$131,5 per ton. Jika dikalkulasi sepanjang minggu ini, harga batu bara global jatuh hingga 9,31 persen secara point-to-point.

Laporan dari Reuters memaparkan bahwa volume impor batu bara termal oleh India menyusut ke tingkat paling rendah dalam kurun waktu empat tahun terakhir untuk periode Januari sampai Mei 2026. Pelemahan pasokan luar negeri ini terjadi seiring laju produktivitas domestik mereka yang kian kokoh serta pertumbuhan sektor pembangkit energi terbarukan yang masif.

Bila diakumulasikan secara menyeluruh, tingkat impor batu bara jenis termal dari India sepanjang lima bulan pertama tahun ini menyentuh angka 65 juta ton, alias merosot sebesar 12 persen jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Sebagai importir batu bara termal terbesar kedua di dunia, India terus berkomitmen menekan ketergantungan pasokan dari luar negeri dan mencanangkan target pemotongan konsumsi batu bara termal bagi operasional pembangkit listrik minimal 30 persen pada tahun ini.

Produsen batu bara utama di India, yakni Coal India, sebelumnya sudah memberikan instruksi kepada seluruh unit anak usahanya agar menggenjot performa produksi guna merespons lonjakan kebutuhan setrum akibat cuaca panas ekstrem imbas fenomena alam El Nino.

Selain itu, tingginya patokan harga jual untuk jenis batu bara impor beserta pembengkakan ongkos jasa pengiriman komoditas akibat eskalasi konflik di Timur Tengah ikut menjadi faktor penekan intensitas impor mereka.

Sepanjang Januari hingga Mei, total produksi listrik nasional India merangkak naik sebesar 5 persen dari tahun sebelumnya, namun performa pembangkit berbasis energi terbarukan melesat jauh lebih agresif dengan lonjakan mencapai 22 persen.

Puncak permintaan listrik di India, yang merepresentasikan kebutuhan daya maksimum masyarakat, melampaui estimasi awal dari pihak pemerintah sebesar 270 gigawatt pada tanggal 21 Mei akibat gelombang cuaca panas yang melanda wilayah tersebut.

Berdasarkan data rilis dari regulator jaringan listrik nasional Grid-India, total serapan listrik publik di India melonjak hingga 11,2 persen pada bulan Mei dan mencatatkan rekor paling tinggi dalam jangka waktu dua tahun terakhir.

Demi menjamin ketersediaan pasokan listrik sepanjang waktu, produktivitas daya berbasis batu bara ditingkatkan sebesar 10 persen pada bulan Mei dibanding tahun lalu, yang sekaligus menjadi tren kenaikan tertinggi semenjak Mei 2024.

Pada momentum yang sama, pasokan listrik dari sektor energi bersih ramah lingkungan melonjak hingga 29,31 persen secara tahunan menjadi 27,58 miliar kilowatt-jam (kWh), sekaligus memecahkan rekor kontribusi sebesar 17,9 persen terhadap total output listrik nasional.

Di sudut bursa lain, pasar untuk komoditas batu bara kokas di China dilaporkan masih melanjutkan tren penguatan harga secara konsisten. Lonjakan nilai ini dipicu oleh kendala operasional pasokan akibat pengetatan regulasi keselamatan kerja menyusul insiden kecelakaan tambang pada akhir Mei.

Para pelaku importir asal China mengalihkan pesanan ke negara produsen alternatif seperti Kanada serta Australia untuk jadwal pengapalan Juni dan Juli, menyusul pembekuan operasi 155 tambang batu bara di wilayah Shanxi demi pemeriksaan menyeluruh. Penutupan area tambang lokal tersebut memicu kenaikan harga batu bara kokas di pasar domestik.

Meskipun begitu, volume impor batu bara kokas China selama empat bulan pertama pada tahun 2026 tercatat tetap mengalami kenaikan sebesar 20 persen dari basis rendah setahun lalu karena melimpahnya pasokan dari produsen utama seperti Mongolia serta perbaikan lini logistik perbatasan, walau aktivitas produksi baja terpantau menyusut 4,1 persen.

Terkini