Musim Panen Kopi di Pati Tiba Petani Hadapi Penurunan Harga Jual

Jumat, 19 Juni 2026 | 00:05:32 WIB
Petani Kopi.

JAKARTA - Komoditas kopi di wilayah Kabupaten Pati terpantau mulai memasuki periode panen. Kendati demikian, para petani terpaksa harus berhadapan dengan realitas yang kurang menguntungkan berupa anjloknya nilai jual.

Sejumlah petani terpantau mulai mengambil buah kopi yang sudah matang atau berwarna merah, walau agenda panen raya diprediksi baru bergulir sekitar dua minggu ke depan. Sementara untuk buah kopi yang masih hijau sengaja didiamkan di pohon sampai menyentuh tingkat kematangan yang pas.

Salah satu pembudi daya kopi, Noor Cholis Anwar menyebutkan jika dirinya sudah mulai melangsungkan panen berkala guna mengambil buah kopi yang sudah matang.

“Yang dipanen sekarang hanya buah yang sudah merah. Yang masih hijau kami biarkan dulu. Hasil panen tahun ini lumayan bagus, bahkan lebih banyak dibanding tahun lalu. Mungkin karena faktor cuaca yang mendukung dan serangan hama yang berkurang,” kata warga Desa Klakahkasihan, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati itu, Jumat (19/6/2026).

Menurut pandangannya, tingkat produktivitas kopi pada tahun ini mencatatkan kenaikan jika disandingkan dengan musim panen yang lalu. Namun, iklim tersebut belum sepenuhnya memberikan keuntungan bagi kelompok petani lantaran nilai jual kopi justru merosot.

Cholis memaparkan, pada musim panen periode tahun 2025 yang lalu harga komoditas biji kopi kering sempat bertengger di angka Rp65.000 per kilogram. Bahkan, pada beberapa tempat harga jual kopi sanggup menembus nominal Rp70.000 per kilogram.

Sementara itu, mendekati momen panen raya tahun 2026 ini, nilai jual kopi kering pada level petani melorot dan hanya berada pada rentang Rp53.000 sampai Rp55.000 per kilogram.

Adanya penurunan nilai jual ini membuat kalangan petani menaruh asa agar kondisi pasar kembali pulih ketika puncak musim panen tiba. Kenaikan harga dipandang sangat krusial guna menutup ongkos operasional yang terus melambung, terutama untuk pupuk non-subsidi.

“Semoga nanti saat panen raya harga bisa naik lagi sehingga petani mendapatkan hasil yang lebih baik,” harapnya.

Ekspektasi yang sama diutarakan oleh Tuti, pembudi daya kopi yang berasal dari Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati.

Dirinya membeberkan jika sebagian petani di kawasannya malah sudah melangsungkan aktivitas panen sejak dua pekan kemarin. Walaupun kuantitas panen tergolong memuaskan, ia berharap nilai jual kopi bisa terkerek naik supaya sanggup menyeimbangkan lonjakan ongkos kebutuhan hidup harian.

“Di tempat kami panen sudah dimulai sekitar dua minggu lalu. Semoga harga kopi bisa naik karena kebutuhan pokok juga terus naik,” ujarnya.

Terkini