BI Rate Naik, Kupon Obligasi Korporasi Berpotensi Terkerek

Jumat, 19 Juni 2026 | 22:54:31 WIB
Bank Indonesia (BI).

JAKARTA - Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75% memicu potensi penyesuaian kupon pada obligasi korporasi.

Kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen acuan bebas risiko memaksa investor untuk meminta imbal hasil lebih tinggi guna mengompensasi risiko kredit dan likuiditas pada surat utang perusahaan.

Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin, menjelaskan bahwa meski transmisi kenaikan suku bunga ke pasar obligasi korporasi tidak selalu instan, dampaknya sudah mulai terlihat pada penerbitan surat utang baru.

Menurut Ahmad, emiten yang masuk ke pasar saat ini harus menawarkan kupon yang lebih kompetitif dibandingkan saat yield acuan masih rendah.

Penyesuaian ini telah tecermin pada obligasi korporasi berperingkat AAA, di mana rata-rata kupon tenor satu tahun naik dari 4,84% pada kuartal I-2026 menjadi 5,10% pada periode April–Mei 2026, sementara tenor tiga tahun naik menjadi 5,95%.

"Dengan acuan yield SUN yang kini di atas 7%, obligasi korporasi baru akan lebih menarik jika memberikan premi di atas SBN sesuai peringkatnya," ujar Ahmad, Kamis (18/6/2026).

Ahmad memproyeksikan, untuk obligasi berperingkat AAA dan AA dengan tenor pendek hingga menengah, kupon di kisaran high-6% hingga low-7% kini mulai dianggap kompetitif.

Sementara untuk peringkat yang lebih rendah, seperti A, kupon mungkin perlu berada di area high-8% hingga low-9%, bahkan bisa menyentuh level double digit untuk peringkat BBB guna mengompensasi risiko.

Ke depan, daya tarik obligasi korporasi akan sangat bergantung pada kemampuan penerbit dalam memberikan premi risiko yang memadai dibandingkan dengan instrumen alternatif seperti deposito maupun SBN yang memiliki risiko kredit lebih rendah.

Terkini