Pentingnya Menakar Kebutuhan Nutrisi pada Pagi Hari bagi Tubuh

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:05:32 WIB
Ilustrasi Orang Sedang Sarapan.

JAKARTA - Kegiatan sarapan kerap kali dinilai sebagai momentum pemenuhan nutrisi yang paling krusial guna mengawali segala bentuk aktivitas harian.

Kendati demikian, kewajiban untuk mengonsumsi asupan makanan di pagi hari sejatinya amat bergantung pada pola hidup serta rutinitas harian dari tiap-tiap orang.

"Ada orang yang bisa berfungsi dengan baik menggunakan sarapan, dengan program sarapan. Ada yang bisa berfungsi dengan baik tanpa sarapan," papar diet expert Yulia Baltschun dalam sesi talkshow bertajuk "Minum Jus Buah dan Sarapan Bikin Lebih Sehat?" di Ageless Festival, Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, Minggu (14/6/2026).

Hal tersebut dikarenakan metabolisme tubuh manusia pada hakikatnya dibekali dengan mekanisme penyimpanan cadangan kalori guna menyokong stamina fisik.

Oleh sebab itu, zat gizi yang diserap dari konsumsi makanan di hari sebelumnya masih dapat dioptimalkan sebagai sumber energi, meski kamu beraktivitas tanpa makan pagi.

Yulia sendiri membeberkan bahwa skema pemenuhan nutrisi harian yang diterapkannya cenderung bersifat kombinasi (hybrid) serta diselaraskan dengan intensitas kegiatan fisiknya.

Dirinya baru akan mencukupi kebutuhan gizi secara menyeluruh pada pagi hari apabila agenda aktivitas yang mesti dijalani tergolong sangat padat.

"Kalau misalkan heavy activity aku berat banget, kadang badan sudah memberikan signal bahwa pagi itu aku perlu makro-mikronutrien yang komplit," ungkap Yulia.

Jika sinyal berupa alarm kebutuhan zat gizi makro dan mikro tersebut diabaikan, ia mengaku bakal menemui kendala sewaktu melakukan program olahraga berat.

"Jadi kalau cuma hanya dikasih protein shake, kurang kerasa dari segi stamina. Semuanya drop. Dan kalau dipaksain angkat beban udah pasti melempem," tambah dia.

Walau begitu, pada hari-hari biasa dengan intensitas kegiatan normal, ia tetap mampu beraktivitas secara prima cukup dengan mengonsumsi sarapan ringan seperti protein shake dan buah.

Fenomena ini dinilai wajar lantaran bahan makanan yang dicerna tidak serta-merta langsung diubah menjadi tenaga pada detik yang sama.

Tubuh memiliki sistem tersendiri untuk mengamankannya sebagai deposit energi, di mana zat karbohidrat disimpan berupa glikogen dalam otot dan hati, sedangkan lemak ditampung di sel-sel lemak.

Manakala pasokan nutrisi makro sanggup terpenuhi secara utuh pada malam hari, maka deposit energi cadangan ini siap untuk dieksploitasi keesokan paginya.

Seseorang dinilai tetap dapat melaksanakan aktivitas olahraga dengan kondisi perut kosong tanpa perlu merasa risau akan mengalami penyusutan massa otot.

Kondisi sebaliknya justru berpotensi terjadi jika asupan gizi harian yang dikonsumsi sebelum beristirahat tidur berada dalam jumlah minim atau tidak seimbang.

Memaksakan diri berolahraga pada pagi hari dengan kondisi sisa cadangan nutrisi yang terlampau sedikit berisiko memicu kerusakan pada jaringan otot tubuh.

"Tapi kalau dari malamnya udah kurang gizi, besok paginya Hyrox misalkan, nah itu di situ risiko muscle loss-nya naik," terang Yulia.

Oleh karena itu, prinsip mengenai penting atau tidaknya sarapan wajib dikembalikan pada indikator pemenuhan gizi pada hari sebelumnya.

"Balik lagi tergantung gimana satu hari sebelumnya, dan programnya seperti apa, dan orang ini berfungsi baiknya dengan program yang gimana," ucap dia.

Pendekatan dengan cara melewati waktu makan pagi ini rupanya turut dipraktikkan oleh Co-founder Technogym Indonesia, Arya Setiadharma, lewat metode One Meal A Day (OMAD).

Dirinya sudah terbiasa untuk meniadakan agenda makan di waktu pagi maupun siang hari, kemudian baru menyantap hidangan utama pada waktu malam.

"Saya malah enggak makan pagi, enggak makan siang. Saya one meal a day, tapi makannya malam. And I lost weight because of that," ungkap Arya.

Metode pembatasan waktu makan tersebut diakui sukses membantu memangkas berat badan Arya dari yang semula 82 kilogram menjadi bertahan di kisaran 66 sampai 67 kilogram.

Berdasarkan pengalaman pribadinya, tingkat kebugaran fisik serta pencapaian bobot tubuh yang ideal lebih banyak dipengaruhi oleh mutu kualitas dari asupan gizi itu sendiri.

"Jadi kalau dibilang (jam makan) paling sehat, tergantung ya. What you eat matters," jelas Arya.

Bagi kalangan masyarakat yang memang sudah terbiasa menetapkan sarapan, Arya memberikan masukan agar lebih cermat dalam mengontrol komposisi menu pagi mereka.

Sajian kuliner yang sarat akan kandungan zat protein dinilai memiliki khasiat yang jauh lebih positif ketimbang jenis asupan yang sarat akan kandungan gula.

"Jadi kalau saya rasa, apa yang dimakan saat pagi itu enggak boleh high sugar content. Harus yang lebih kayak misalnya telur, lebih protein-heavy," tutur dia.

Terkini