PT Xolare RCR Energy Targetkan Pendapatan Rp412,57 Miliar pada 2026

Rabu, 17 Juni 2026 | 23:50:01 WIB
PT Xolare RCR Energy.

JAKARTA - Emiten konstruksi dan energi, PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA), mematok target perolehan pendapatan menembus angka Rp412,57 miliar pada tahun 2026, yang mengindikasikan pertumbuhan sebesar 23,5 persen dari realisasi capaian tahun 2025 senilai Rp333,99 miliar.

Selaras dengan proyeksi kenaikan omzet tersebut, manajemen perusahaan membidik perolehan laba tahun berjalan senilai Rp52,74 miliar pada 2026 atau menguat sebesar 18,1 persen bersanding dengan perolehan tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp44,66 miliar.

Direktur Utama SOLA, Mochamad Bhadaiwi, mengutarakan bahwa akselerasi pertumbuhan performa perseroan ke depan bakal ditopang oleh penguatan visibilitas pendapatan (revenue visibility), penambahan backlog konstruksi, serta diversifikasi produk dan layanan.

“Fokus pipeline diarahkan untuk memperkuat revenue visibility, backlog konstruksi, dan diversifikasi produk maupun layanan perseroan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (17/6).

Menurut penjelasan Bhadaiwi, pihak perseroan sudah merumuskan tiga pilar pertumbuhan utama guna memuluskan pencapaian target tersebut. Pilar pertama berpusat pada lini bisnis jalan hauling serta konstruksi pertambangan di wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Melalui segmen ini, SOLA mengincar peluang jasa peningkatan dan pemeliharaan jalan hauling batu bara lewat penawaran solusi konstruksi terintegrasi, seperti cement treated base (CTB), cement treated recycled base (CTRB), stabilisasi tanah, aspal emulsi, hingga metode double chip seal.

Perusahaan juga aktif memburu kontrak pengerjaan proyek baru maupun pesanan berulang (repeat order) dari para pelanggan lama.

Sementara itu, pilar kedua diorientasikan pada pengembangan produk aspal serta material industrial grade, di mana perseroan berencana memperluas jangkauan pemasaran aspal emulsi, polymer modified bitumen (PMB), cold mix asphalt, pelapis, produk kedap air, hingga membran bitumen.

Aksi korporasi tersebut dioptimalkan lewat skema call-off order bagi para mitra di sektor migas, pertambangan, dan infrastruktur, serta didukung perluasan jaringan pabrik di Sumatra Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Adapun pilar ketiga difokuskan pada ekspansi energi terbarukan dan penyediaan jasa engineering, procurement and construction (EPC).

Bhadaiwi menerangkan bahwa SOLA tengah menggarap pipeline proyek EPC pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), proyek PLTS dengan basis independent power producer (IPP), sampai dengan jasa EPC dan pemeliharaan terpadu untuk sektor energi serta migas.

Guna menyokong pencapaian target finansial tersebut, perseroan kini sedang mengeksekusi beberapa proyek strategis nasional.

Beberapa di antaranya meliputi peningkatan jalan hauling batu bara milik PT Servo Lintas Raya sepanjang 36 kilometer, pembangunan kompleks perkantoran dan mess Wisma Titan, serta konstruksi jalan hauling sepanjang 10 kilometer memakai metode double chip seal untuk PT Royalltama Mulia Konstruksi.

Selain itu, SOLA juga sedang mengoperasikan kontrak call-off order aspal emulsi untuk PT Pertamina Hulu Rokan serta memasok aspal polimer, aspal emulsi, dan cold mix asphalt bagi para kontraktor pengerjaan proyek jalan nasional maupun jalan tol.

Dari sisi struktural neraca keuangan, pihak perseroan memproyeksikan akumulasi total aset akan merangkak naik menjadi Rp351,39 miliar pada 2026 dari posisi Rp309,86 miliar pada periode tahun sebelumnya.

Total ekuitas perusahaan diperkirakan ikut meroket menjadi Rp245,37 miliar dari Rp192,63 miliar, sedangkan total kewajiban atau liabilitas diproyeksikan mengalami penurunan menjadi Rp106,02 milar dari angka Rp117,22 miliar.

Bhadaiwi memberikan penilaian bahwa ceruk pasar dan peluang pertumbuhan perseroan masih terbuka sangat lebar, khususnya sejalan dengan realisasi implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025—2034.

Regulasi tersebut gencar mendorong perluasan pembangkit energi baru terbarukan, termasuk di dalamnya instalasi PLTS dan sistem penyimpanan energi (energy storage system).

Di sudut lain, volume kebutuhan untuk pengerjaan pembangunan serta preservasi jalur transportasi darat dinilai akan tetap tinggi seiring berlanjutnya proyek pembangunan infrastruktur berskala nasional.

Menurut pandangannya, peningkatan kebutuhan akses jalan industri, jalan tambang, kawasan logistik, hingga jalur penghubung pelabuhan turut membuka peluang emas bagi bisnis konstruksi dan penyediaan material yang dikelola perseroan.

Bukan hanya itu, aturan mengenai carbon capture utilization and storage (CCUS) dinilai mampu bertindak sebagai mesin pertumbuhan baru lewat pemenuhan kebutuhan dekarbonisasi industri serta tata kelola nilai ekonomi karbon.

“Regulasi CCUS membuka peluang kebutuhan dekarbonisasi industri dan pengembangan nilai ekonomi karbon melalui kerja sama strategis dengan Apolpo LLC,” kata Bhadaiwi.

Sementara itu, dalam agenda RUPST yang diselenggarakan pada Senin (15/6), para pemegang saham resmi memberikan persetujuan atas laporan tahunan dan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku 2025.

Pertemuan tersebut juga menyepakati peruntukan laba bersih tahun buku 2025 senilai Rp44,65 miliar, di mana sejumlah Rp14 miliar dialokasikan sebagai dana cadangan wajib, sedangkan Rp30,65 miliar sisanya diputuskan sebagai laba ditahan.

Selain itu, pemegang saham menyerahkan wewenang penuh kepada dewan komisaris untuk merumuskan besaran remunerasi direksi dan komisaris pada tahun buku 2026, termasuk alokasi tantiem untuk tahun buku 2025.

Dalam sesi perubahan susunan pemangku jabatan, rapat pemegang saham turut meresmikan pengangkatan Gazali Arief Gunawan untuk menduduki posisi sebagai Direktur SOLA yang baru.

Terkini