KAEF Siapkan Strategi Khusus untuk Tangkap Peluang Pasar Lansia

Selasa, 16 Juni 2026 | 00:41:01 WIB
PT Kimia Farma Tbk (KAEF).

JAKARTA - Emiten farmasi terkemuka PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mulai merancang formula strategi jangka panjang guna menangkap ceruk pasar dari pertumbuhan populasi lanjut usia (lansia) di tanah air. 

Manajemen perseroan mengalkulasi torehan nilai ekonomi yang bersumber dari klaster lansia alias silver economy ini berpotensi menyentuh angka Rp500 triliun hingga Rp700 triliun per tahun pada 2045.

Kebijakan strategis korporasi tersebut bergulir selaras terhadap dinamika perubahan struktur demografi menuju era Indonesia Emas 2045. Pada momentum itu, porsi jumlah penduduk lansia diproyeksikan melonjak hingga mencapai angka 20 persen dari akumulasi total populasi, naik dari posisi sekitar 12 persen pada tahun 2026.

Direktur Komersial KAEF Hanadi Setiarto, mengatakan kelompok lansia akan menjadi salah satu penggerak utama industri kesehatan nasional dalam dua dekade mendatang. Untuk menggarap potensi tersebut, perseroan menyiapkan strategi Silver Economy Blueprint untuk membangun ekosistem healthy ageing atau penuaan sehat yang terintegrasi.

"Silver economy merupakan peluang besar yang harus dipersiapkan sejak sekarang. Kami ingin membangun ekosistem kesehatan yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan dan peningkatan kualitas hidup lansia," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).

Hanadi menjabarkan, pada fase sekarang klaster lansia terpantau menyerap porsi berkisar 30 persen sampai 40 persen dari total belanja kesehatan nasional, atau setara dengan dana Rp190 triliun hingga Rp260 triliun per tahun. Tingginya angka pengeluaran itu dipicu oleh derasnya pemanfaatan fasilitas kesehatan oleh warga lansia yang menanjak tiga hingga lima kali lipat melampaui kelompok usia lainnya.

Di samping itu, sekitar 70 persen anggaran kesehatan lansia tersedot demi penanganan penyakit kronis layaknya diabetes, hipertensi, beserta rupa-rupa penyakit degeneratif. Menurut pandangannya, realitas ini menjadi pemantik bagi Kimia Farma untuk memutar kemudi model bisnis dari yang tadinya bertumpu pada pengobatan (curative care) bertransisi menuju layanan preventif serta rehabilitatif.

"Dari total peluang silver economy, pasar farmasi diperkirakan hanya sekitar 30%, sementara 70% lainnya berasal dari layanan kesehatan terintegrasi," katanya.

Adapun sektor layanan yang diproyeksikan mengantongi kontribusi paling dominan mencakup lini Home Care dan Long Term Care (20 persen), diikuti oleh Chronic Care Management (20 persen), serta kebugaran dan Preventive Care (15 persen), ditambah unit layanan diagnostik (15 persen).

Manajemen perseroan saat ini menggeser kiblat bisnis ke ranah Preventive dan Personalized Care lewat portofolio layanan bertajuk Healthspan. 

Langkah ini ditopang oleh rupa-rupa varian produk kesehatan, mulai dari pasokan obat kimia hingga suplemen herbal yang dikonsepkan untuk membantu lansia menjaga kebugaran serta kemandirian lebih lama.

Pada lini pelayanan diagnostik, PT Kimia Farma Diagnostika (KFD) diposisikan menjadi garda terdepan melalui penyediaan fasilitas cek kesehatan, early screening, sampai skema medical check up khusus kelompok lansia demi mengendus potensi risiko penyakit kronis semenjak dini.

Sementara itu, bagi para warga lansia yang dihadapkan pada keterbatasan ruang gerak atau mobilitas, Kimia Farma menyajikan opsi layanan homecare yang mengintegrasikan unit Home Lab, Home Pharmacy, sekaligus pendampingan dari Home Nurse.

Di balik melimpahnya potensi pasar yang ada, Hanadi tidak menampik adanya rentetan tantangan besar dalam merealisasikan ekosistem healthy ageing di tanah air. Jika ditinjau dari payung regulasi, sistem home care saat ini rupanya belum terhubung seutuhnya dengan jejaring kesehatan nasional, ditambah lagi skema pembiayaan untuk aspek preventif masih tergolong minim.

Bukan hanya itu, Indonesia saat ini juga dibayangi oleh masalah keterbatasan pasokan sumber daya manusia, terkhusus para tenaga caregiver profesional serta tenaga medis yang mengantongi sertifikasi keahlian di bidang geriatri.

Tantangan pelik berikutnya bersumber dari ketimpangan akses jangkauan, di mana pusat fasilitas pelayanan bagi kelompok lansia sejauh ini dirasa masih menumpuk di area perkotaan besar saja.

Demi mengurai benang merah persoalan tersebut, Kimia Farma berupaya menstimulasi sinergi erat yang melibatkan jajaran pemerintah, korporasi swasta, hingga perkumpulan komunitas lansia lewat pemanfaatan skema public private partnership.

 

Terkini